Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.
Latest Post
Menikah, Kenapa Takut?
Diposting oleh
Unknown
|
Senin, 25 November 2013
Baca selengkapnya »
Kita hidup di zaman yang mengajarkan
pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila
mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya
merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga,
mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga
yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah
menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya
lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?
Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.
Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.
Kisah Cinta dari Masjid Kampus
Diposting oleh
Unknown
|
Baca selengkapnya »
Seorang kakek-kakek duduk di
sebuah sekret rohis kampus. Sekret itu berukuran 3×3 meter. Kecil, tapi
sangat nyaman. Lantainya dialasi karpet coklat. Ada lemari file, kaca
besar di sampingnya. Buku-buku Islam tersusun rapi di hadapan kakek itu
duduk. Jendela terbuka lebar. Terdengar kicauan dari burung yang ada di
dalam sangkar.
Kerut-kerut di wajahnya sangat kentara. Rambutnya sudah memutih. Ia
termenung. Kepalanya tertunduk. Ia tengah memandangi sebuah album foto.
Tak jauh darinya, ada setumpuk album foto lainnya. Lama sekali ia
memandangi album foto itu.
Seorang mahasiswa berbaju koko, masuk ke sekret dan sebelum duduk di
sebelahnya, ia mengucap salam, sambil mengulurkan tangannya, mencium
tangan kakek itu dan mencium pipi kiri dan kanan. “Wa’alaikumsalam Wr
Wb,” jawab sang kakek. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Kakek
itu masih asyik menatapi foto-foto tersebut. Membuka-buka halamannya.
“Saya suka melihat foto-foto ini, dan saya tak kan pernah bosan
melihatnya,” ujar kakek itu memecah kesunyian. Matanya terlihat sayu dan
memendam kerinduan yang mendalam. Mahasiswa itu terlihat tak mengerti,
tapi kemudian ia berujar, “Ya, Pak saya pernah melihat foto-foto itu,
sepertinya orang-orang di dalam foto itu sangat kompak ya.” Mahasiswa
itu mendekat dan ikut melihat foto-foto itu. “Lihatlah ikhwan-ikhwan
ini, mereka semua sangat kompak,” kata kakek itu sambil menunjuk sebuah
foto dan tiba-tiba wajah kakek itu terlihat sumringah. “Tahukah kamu,…
untuk mewujudkan ikhwan-ikhwan yang kompak seperti ini, ada pengorbanan
dari para senior-senior kami dahulu dan juga dari teman-teman kami
sendiri,” kakek itu menjelaskan. Mahasiswa itu kemudian bertanya “Bapak
sendiri yang mana?” “Saya…, yang ini… Bersama teman-teman saya dulu…,”
ujar kakek itu sambil menunjuk ke sebuah foto ikhwan yang memakai ikat
kepala putih dan slayer biru saat mukhayyam di gunung.
